Categories

A sample text widget

Etiam pulvinar consectetur dolor sed malesuada. Ut convallis euismod dolor nec pretium. Nunc ut tristique massa.

Nam sodales mi vitae dolor ullamcorper et vulputate enim accumsan. Morbi orci magna, tincidunt vitae molestie nec, molestie at mi. Nulla nulla lorem, suscipit in posuere in, interdum non magna.

Hasil Quiz Pemrograman Basis Data Lanjut

Berikut hasil Quiz Mata Kuliah Pemrograman Basis Data Lanjut:

 

nim nama nilai
30110013 ADRIAN RASYID 55
30110016 DIAN MEYLISYAH SRG 75
30110045 FAIZAL FAHMI 50
30110054 MULYADI FATHURRAHMAN 60
30110112 BERY RISKY GINTING 60
30110121 RIANA NUR FATIMAH 70
30110132 TEDI RISWANDI 35
30110148 AGUNG RIZKIONO 55
30110151 PRAMBUDI ADITYA PUTRA 75
30110154 GISELLIA SONYA NADYASTUTI 35
30110156 RAFIK SULTHONI 55
30110168 INA TRISNAWATI NUGRAHA 90
30110206 HUDZAIFAH 60
30110252 RAYA PRADITA WIRAATMADJA 65
30110259 FITA RAMADHANI 50
30110271 ALFIS AFFANDI SITORUS 75
30110273 DANIEL HARIANJA 75
30110274 VERAMITA S 75
30110289 RUCHI WILUTAMA 75
30110290 DYTA CHAIRUNNISA 80
30110300 ULIN NIKMAH 95
30110311 MUHAMMAD YUSUF 60
30110318 NANDA PUTRA UTAMA 50
30110333 ANDRY ADIPATI S 50
30110341 HERU PRASETYO 50
30110362 AGUNG MUZAKI PRASETYA 75
30110368 BEKKER TAMBA 50
30110381 ELDORADO S.M SIHOMBING 50
30110393 SHANTY ARIESTANIA 75
30110422 GLORIASTUTI S S 95
30110431 SARI KRISTIN NAPITUPULU 75
30110432 ROLIN S SIRINGO 95
30110437 FRANSISKUS GURNING 40
30110440 MARYAM SABTU 75
30110452 MICHELLE AMANDA MARTIN PUTRI 50
30110457 MUHAMMAD IMAN EKO SAMBODO 75
30110473 YUNDHIAS PUTRI 75

Keterangan:

nilai = 50 : Hanya bisa membuat tabel tapi tidak paham PL/SQL

nilai < 50: Tidak paham cara membuat tabel dan PL/SQL

nim nama nilai
30110013 ADRIAN RASYID 55
30110016 DIAN MEYLISYAH SRG 75
30110045 FAIZAL FAHMI 50
30110054 MULYADI FATHURRAHMAN 60
30110112 BERY RISKY GINTING 60
30110121 RIANA NUR FATIMAH 70
30110132 TEDI RISWANDI 35
30110148 AGUNG RIZKIONO 55
30110151 PRAMBUDI ADITYA PUTRA 75
30110154 GISELLIA SONYA NADYASTUTI 35
30110156 RAFIK SULTHONI 55
30110168 INA TRISNAWATI NUGRAHA 90
30110206 HUDZAIFAH 60
30110252 RAYA PRADITA WIRAATMADJA 65
30110259 FITA RAMADHANI 50
30110271 ALFIS AFFANDI SITORUS 75
30110273 DANIEL HARIANJA 75
30110274 VERAMITA S 75
30110289 RUCHI WILUTAMA 75
30110290 DYTA CHAIRUNNISA 80
30110300 ULIN NIKMAH 100
30110311 MUHAMMAD YUSUF 60
30110318 NANDA PUTRA UTAMA 50
30110333 ANDRY ADIPATI S 50
30110341 HERU PRASETYO 50
30110362 AGUNG MUZAKI PRASETYA 75
30110368 BEKKER TAMBA 50
30110381 ELDORADO S.M SIHOMBING 50
30110393 SHANTY ARIESTANIA 75
30110422 GLORIASTUTI S S 100
30110431 SARI KRISTIN NAPITUPULU 75
30110432 ROLIN S SIRINGO 100
30110437 FRANSISKUS GURNING 40
30110440 MARYAM SABTU 75
30110452 MICHELLE AMANDA MARTIN PUTRI 50
30110457 MUHAMMAD IMAN EKO SAMBODO 75
30110473 YUNDHIAS PUTRI 75

Berikut

Potensi yang luar biasa teknologi SixthSense

Kalau ada yang mau lihat video-nya silahkan lihat di sini http://www.ted.com/talks/lang/id/pranav_mistry_the_thrilling_potential_of_sixthsense_technology.html

 

Berikut transkrip presentasinya:

Kita tumbuh berinteraksi dengan objek nyata di sekitar kita Ada banyak sekali jumlahnya yang kita gunakan sehari-hari. Tidak seperti kebanyakan peralatan komputer kita, objek ini jauh lebih menyenangkan untuk digunakan. Saat Anda berbicara mengenai sebuah objek, secara otomatis akan ada hal lain yang ikut menyertai, dan itu adalah gerak tubuh: bagaimana kita memanipulasi objek ini, bagaimana kita menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita menggunakan gerak tubuh, tidak hanya untuk berinteraksi dengan objek ini, tapi juga kita gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Gerak tubuh dari “Namaste!”, mungkin, untuk menghormati seseorang, atau mungkin juga — di India, saya tidak perlu mengajarkan kepada anak, bahwa ini berarti “four runs” di permainan kriket. Hal ini tumbuh sebagai bagian dari pembelajaran sehari hari.

Jadi, saya sangat tertarik dari awal, bagaimana — Bagaimana pengetahuan kita tentang objek yang sering kita temui dan gerak tubuh, dan bagaimana kita menggunakan objek ini, bisa kita manfaatkan untuk berinteraksi dengan dunia digital Daripada menggunakan sebuah keyboard dan mouse, kenapa saya tidak menggunakan komputer saya dengan cara yang sama saya berinteraksi dengan dunia nyata?

Jadi, saya memulai eksplorasi ini sekitar delapan tahun yang lalu, dan benar-benar memulainya dengan mouse di meja saya. Alih-alih menggunakannya di komputer saya, saya malah membukanya. Seperti diketahui, pada masa itu, di dalam mouse ada sebuah bola, dan dua roda silinder yang berfungsi untuk memandu komputer, ke mana bola itu bergerak, dan menentukan ke mana mouse itu bergerak. Jadi perhatian saya terpusat pada kedua silinder ini, Ketika membutuhkan lebih banyak lagi, saya pinjam dari teman — yang tidak pernah lagi saya kembalikan — Jadi sekarang saya punya 4 roda silinder Menarik, yang saya lakukan pada pada silinder itu, adalah saya copot dari mouse-nya saya jejerkan. Kemudian saya hubungkan dengan tali, katrol, dan pegas dan akhirnya tercipta antarmuka gerak tubuh yang berfungsi seperti alat pendeteksi gerak seharga 2 dolar. Jadi, sekarang, gerakan apa pun yang saya lakukan secara fisik akan terjadi juga di dunia digital hanya dengan alat sederhana yang saya buat ini, sekitar 8 tahun silam di tahun 2000

Karena ingin menyatukan kedua dunia ini saya jadi teringat kertas berperekat. Saya pikir, “Kenapa saya tidak bisa menggunakan cara berinteraksi kertas berperekat di dunia nyata di dunia digital?” Pesan yang ditulis di kertas berperekat oleh ibu saya di atas kertas bisa muncul sebagai SMS, atau notifikasi rapat yang secara otomatis terhubung ke kalender digital saya — daftar pekerjaan yang otomatis berubah sesuai apa yang dikerjakan. Tapi yang bisa juga dicari secara digital, atau dengan perintah pemilahan, misalnya, “Di mana alamat Dr. Smith ?” dan sistem sederhana ini bisa mencetak ke kertas juga– Jadi masukan maupun keluarannya tetap kertas, terbuat dari kertas.

Dalam eksperimen lain, saya ingin membuat pena yang bisa menggambar 3D. Jadi, saya ciptakan pena ini untuk membantu perancang dan arsitek tidak hanya untuk berpikir secara 3D, tapi sekaligus menggambar jadi lebih intuitif kerjanya.

Lalu terpikir juga, ” Kenapa tidak menghadirkan Google Map, secara fisik di dunia nyata?” Alih-alih mengetikkan kata kunci untuk mencari, saya letakkan objek di atasnya. Kalau saya letakkan tiket pesawat, akan muncul info penerbangan yang ada, Cangkir kopi akan menghasilkan lokasi kedai kopi, atau lokasi tong sampah.

Jadi, ini beberapa eksplorasi awal yang saya lakukan karena ingin menyatukan kedua dunia ini secara utuh. Dari semua percobaan ini, benang merahnya adalah: saya berusaha menghadirkan apa yang nyata ke dunia digital saya menghadirkan sebagian dari sesuatu yang nyata atau apa-apa yang bersifat intuitif dalam kehidupan nyata, dan membawanya ke dunia digital, karena tujuannya adalah membuat antarmuka komputasi kita lebih intuitif.

Tapi lalu saya menyadari bahwa manusia tidak tertarik pada komputasi yang kita minati adalah informasi. Kita ingin lebih memahami apa-apa. Kita ingin tahu tentang segala perubahan dinamis yang terjadi.

Jadi saya pikir, sekitar tahun lalu — awal tahun lalu — Saya mulai berpikir, “Kenapa saya tidak lakukan sebaliknya ?” Mungkin, “Bagaimana kalau saya bawa dunia digital dan menghadirkan informasi digital ke dunia nyata?” Karena pixel, saat ini, terkurung dalam monitor seukuran saku kita. Kenapa tidak saya bongkar kurungan ini dan saya tampilkan pada barang yang saya temui sehari-hari supaya saya tidak perlu belajar bahasa baru untuk berinteraksi dengan pixel-pixel ini ?

Untuk mewujudkan impian ini, saya pernah punya ide menempelkan proyektor ke kepala saya. Mungkin itu kenapa disebut proyektor di atas kepala, bukan? Saya mengartikannya secara harfiah dengan mengambil helm sepeda saya dan memotongnya supaya proyektor itu muat dengan pas. Dengan begitu, saya bisa — saya bisa perluas dunia dengan informasi digital.

Tapi kemudian, saya ingin juga bisa berinteraksi dengan pixel-pixel itu, Jadi saya pasang sebuah kamera di sana, yang berfungsi sebagai mata digital. Yang lalu berubah jadi sesuatu yang lebih baik, versi mini yang berorientasi pada pasar, yang Anda semua kenal sebagai SixthSense.

Yang paling menarik dari teknologi ini adalah Anda bisa bawa dunia digital Anda ke manapun Anda pergi Anda bisa pergunakan permukaan apa saja, dinding di sekitar Anda, sebagai antarmuka. Kameranya akan melacak semua gerakan Anda. Apaun yang Anda kerjakan dengan tangan akan dikenali dan dimengerti. Dan, kalau Anda lihat, ada penanda-penanda warna yang kami pakai di versi terdahulu. Sekarang Anda bisa melukis di dinding apa saja. Berhenti di depan dinding, dan mulai melukis di dinding itu. Tapi kami tidak hanya melacak satu jari di sini. Kami berikan kebebasan menggunakan kedua tangan Anda, Jadi Anda bisa melakukan pembesaran dan pengecilan misalnya sebuah peta hanya dengan melakukan gerakan mencubit. Kamera sebetulnya hanya — mengumpulkan citra — hanya mengidentifikasi batasan dan warna. dan ada banyak algoritma kecil lain yang dijalankan di dalamnya. Jadi secara teknis memang agak rumit, tapi alat ini memberikan keluaran yang lebih intuitif untuk digunakan.

Yang paling seru buat saya adalah ini bisa dibawa ke mana saja. Dan alih-alih menggunakan kamera, Anda cukup melakukan gerakan memfoto dan alat ini bisa mengambil gambar Anda.

(tepuk tangan)

Terima kasih

Kemudian dengan menggunakan dinding apa saja, di mana saja, saya bisa melihat-lihat foto itu atau mungkin, “Ok, saya mau ubah foto ini sedikit dan mengirimkannya lewat email ke teman saya.” Jadi kita memasuki sebuah era di mana dunia komputasi akan menyatu dengan dunia fisik. Dan tentu saja kalau tidak ada bidang yang bisa digunakan Anda bisa gunakan telapak tangan Anda untuk operasi sederhana. Di sini, saya memasukan nomor telepon lewat tangan saya. Kamera tidak hanya memahami gerakan tangan Anda, tapi menariknya juga bisa mengenali apa yang tengah Anda pegang.

Apa yang kami lakukan sebetulnya — misalnya, dalam kasus ini, sampul bukunya dicocokan dengan ribuan, mungkin jutaan, toko buku online, untuk menemukan bukunya. Sekali ketemu, semua ulasan tentang buku itu diunduh, atau mungkin New York Times punya ulasan menarik tentang itu, jadi Anda bisa mendengarkan, buku yang sebenarnya berbentuk fisik, ulasan secara audio (“Pidato terkenal di Universitas Harvard…”)

Ini adalah kunjungan Obama ke MIT minggu lalu. (“….dan secara khusus saya ingin berterima kasih pada dua warga MIT…”) Jadi, saya menonton pidato ini, langsung, di luar, pada sebuah koran. Koran Anda akan bisa menampilkan informasi cuaca alih-alih sekadar memperbaharui — seperti, Anda harus memeriksa komputer Anda untuk melakukan itu, bukan?

(Tepuk tangan)

Waktu pulang nanti, saya tinggal gunakan tiket pesawat saya untuk memeriksa keterlambatan penerbangan saya, karena pada waktu itu, saya lagi malas membuka iPhone saya, menekan ikon tertentu di layar Saya pikir teknologi ini akan mengubah bukan saja — Sungguh. (tertawa) Ini akan mengubah cara kita berinteraksi dengan sesama, juga tidak hanya di dunia nyata. Yang lucu adalah, ketika saya ke Boston metro, dan bermain game pong di dalam kereta menggunakan lantainya (Suara tawa) Saya kira potensinya tak ada batasnya apa saja bisa terwujud ketika teknologi seperti ini menyatu dengan kehidupan nyata.

Tapi banyak yang menyanggah, bahwa apa yang kita kerjakan tidak semuanya nyata. Kita juga banyak menghitung dan merancang di atas kertas jadi bagaimana menangani hal-hal seperti itu? Banyak yang sangat tertarik dengan komputer tablet generasi baru yang akan muncul di pasaran Alih-alih menunggu produk itu, saya malah menciptakan sendiri, hanya dengan secarik kertas. Yang saya lakukan adalah mencopot kameranya — semua kamera web dilengkapi mikropon di dalamnya. saya copot mikroponnya, dan saya pasang — dengan klip pada mikropon itu — saya pasang ke secarik kertas, kertas biasa yang Anda gunakan sehari-hari. Sekarang bunyi sentuhan saya mengidentifikasikan di mana saya menyentuh kertas. Sementara kamera juga melacak gerakan tangan saya.

Anda juga bisa nonton film. (“Selamat siang. Nama saya Russel…”) (“… dan saya Pengembara Liar dari Suku 54.”)

Main game juga bisa. (Deru mesin) Di sini, kamera bisa mengidentifikasi bagaimana Anda memegang kertas dan main game balap mobil. (Tepuk tangan)

Mungkin banyak yang berpikir, OK, Anda pasti bisa menjelajah Internet. Tentu saja Anda bisa menjelajahi situs apa pun dan melakukan komputasi apa saja di atas kertas di mana perlu. Jadi supaya lebih menarik, bagaimana kalau saya lakukan itu dengan cara yang lebih dinamis. Saat saya kembali ke meja kerja, saya tinggal comot informasi itu dan mengembalikannya ke komputer saya jadi saya bisa kerja di layar lebar komputer.

(Tepuk tangan)

Tapi kenapa sebatas komputer? Kita bisa gunakan kertas juga. Dunia kertas sangat menarik untuk digunakan. Di sini, saya ambil sebagian isi dokumen dan meletakkannya di sini sebagai bagian dari dokumen lain — dan saya bisa menyunting informasi yang di sebelah sana. Baiklah. Lalu saya pikir, “Ok ini kelihatan keren, bagaimana kalau dicetak.” Jadi saya bisa menghasilkan cetakan, dan sekarang — aliran kerja jadi lebih intuitif dibanding sebelumnya mungkin 20 tahun lalu, dibanding sekarang yang bisa berpindah dari dunia nyata ke dunia digital.

Sebagai penutup, menurut saya menyatukan informasi dan objek sehari-hari tidak hanya akan menghapus pembatas dunia digital, jurang pemisah kedua dunia, tapi juga membantu kita, sedikit banyak, untuk tetap manusiawi untuk tetap terhubung pada dunia fisik. Dan ini mencegah kita, berperilaku seperti mesin duduk di depan mesin lain.

sekian dan terima kasih.

(Tepuk tangan)

Terima kasih.

(Tepuk tangan)

Chris Anderson: Jadi, Pranav, pertama, Anda ini benar-benar jenius Ini luar biasa, sungguh. Apa yang akan Anda lakukan dengan ini? Apa Anda sedang mendirikan perusahaan? Atau ini jadi bahan penelitian abadi, atau bagaimana ?

Pranav MIstry: Ya, memang banyak perusahaan — yang mensponsori Media Lab — yang tertarik untuk mengaplikasikan teknologi ini. Perusahaan seperti operator telepon genggam, punya pandangan yang berbeda tentang ini dibanding LSM-LSM di India, yang berpikir, “Kenapa hanya indera ke-6?” Mestinya ada juga “Indera ke-5″ bagi orang-orang cacat yang bisu. Teknologi ini memungkinkan mereka punya pilihan untuk berbicara mungkin dengan sistem speaker.”

CA: Apa rencana Anda ? Apa Anda menetap di MIT, atau Anda akan lakukan sesuatu dengan semua ini?

PM: Saya mencoba membuat ini tersedia untuk banyak orang jadi siapa saja bisa mengembangkan SixthSense mereka sendiri karena perangkat kerasnya mudah diproduksi, mudah untuk dibuat sendiri. Kami akan sediakan perangkat lunak open source, mulai bulan depan

CA: Open source? Wow.

(Tepuk tangan)

CA: Apa Anda akan kembali ke India dengan temuan ini, suatu saat nanti?

PM: Ya, ya ya tentu saja.

CA: Apa rencana Anda? MIT ? India? Bagaimana Anda akan bagi waktu antara keduanya?

PM: Memang butuh banyak tenaga banyak belajar. Semua yang Anda lihat di sini adalah tentang pembelajaran saya di india. Dan sekarang, kalau dilihat keekonomisannya: biaya sistem ini hanya 300 dolar bandingkan dengan 20.000 dolar tablet, atau semacamnya Atau mouse berbasis gerakan seharga 2 dolar yang dulu bisa sampai 5.000 dolar satunya Jadi kami — saya sudah tunjukkan itu, di konferensi, kepada Presiden Abdul Kalam, saat itu, dia bilang, “Ok, kita harus pakai ini di Pusat penelitian Atom Bhabha untuk beberapa kegiatan.” Jadi saya bersemangat sekali membawa teknologi ini ke khalayak umum daripada sekedar jadi teknologi di dalam lingkungan lab.

(Tepuk tangan)

CA: Dari orang-orang yang kami saksikan di TED Saya bisa bilang, Anda sungguh satu di antara dua atau tiga penemu terbaik di dunia saat ini. Kehadiran Anda di TED sungguh merupakan suatu kehormatan Terima kasih banyak. Luar biasa.

(Tepuk tangan)

Perwalian Semester Ganjil 2012-2013

Berikut panduan-panduan untuk her-registrasi Semester Ganjil 2012-2013

Content Surat Her Registrasi (LA)

Lampiran 1 Cara Pembayaran BPP

Materi Rapat Perwalian

Sosialisasi Perwalian Ganjil 2012-2013

Apakah anda tahu pentingnya Google Scholar bagi Akademisi?

Sangat penting bagi para akademisi dan peneliti untuk mengunggah hasil karya ilmiah di internet. Hal ini sangat penting karena jangan sampai hasil-hasil tulisan karya ilmiah di kampus menjadi sia-sia. Jangan sampai produk-produk ilmiah tersebut hanya menjadi tumpukan file-file di komputer atau hanya tersimpan di meja dan lemari tanpa pernah dibaca dan dimanfaatkan peneliti lain untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Ada satu kalimat yang bernada sindiran “orang Indonesia bisa mendarat di bulan hanya mengandalkan tumpukan kertas saja”. Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah begitu banyak konsep tertulis namun tidak ada tindak lanjutnya atau implementasinya.

Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat kinerja publikasi ilmiah Indonesia adalah pemeringkatan publikasi ilmiah yang dirilis oleh Scimago. Peringkat Indonesia per 30 April 2012 adalah ke-64, masih kalah dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia berturut-turut menempati posisi 32, 42, dan 43. Jawara dunianya adalah Amerika Serikat dengan jumlah dokumen sebanyak 5322590 dokumen, disusul China, Inggris, Jepang, dan Jerman.  Jumlah dokumen Indonesia hanya 13047 dokumen. Berikut posisi Indonesia dibandingkan negara-negara lainnya.

Saat ini Informasi sangat mudah kita akses melalui internet termasuk konten-konten ilmiah yang kita butuhkan dalam penelitian. Tentunya hal ini akan meningkatkan keterbacaan karya ilmiah yang kita hasilkan jika hasil karya kita upload di internet. Medianya bisa berupa situs kampus, jurnal online, paper repository, bahkan situs atau blog pribadi.

Keterbukaan karya ilmiah Indonesia menjadi salah satu isu yang diangkat dalam Surat Edaran Dikti. Kini, semua produk ilmiah dosen dan mahasiswa wajib online, seperti disebutkan dalam Surat Edaraan Dirjen DIKTI nomor 2050/E/T/2011 tanggal 30 Desember 2011 perihal kebijakan unggah karya ilmiah dan jurnal.

Tentunya kalau kita baca sekilas isi dari kebijakannya ada kesan memaksa dan otoriter. Namun jika kita lebih cermati lagi maksud dari kebijakan tersebut adalah jawaban atas masalah yang sudah saya paparkan diatas. Pemerintah berusaha untuk meningkatkan “Open Access Initiatives” yang bermuara pada proses diseminasi karya ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Mungkin setelah membaca beberapa paragraf sebelumnya muncul pertanyaan “jika karya ilmiah kita unggah bukankah akan lebih mudah untuk peluang munculnya plagiarisme?” kalau saya balik lagi seperti ini bagaimana “bukankah jika kita upload di internet maka plagiarisme akan lebih mudah ditemukan J”. Ok, mungkin ada kekhawatiran dari kita jika nanti karya ilmiah kita diplagiat oleh orang. Tapi kita harus ingat sebagai akademisi dosa paling besar dari dunia kita adalah plagiarisme. Pemerintah sudah mengatur dan melindungi hal-hal terkait karya ilmiah. Menurut Kepmendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan  Tinggi, “Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyebutkan sumber secara tepat dan memadai”.

Lalu apa hubungannya semua yang sudah saya ceritakan tadi dengan Google Cendekia atau Google Scholar?

Mungkin kita sudah mengenal dan sering menggunakan beberapa layanan google seperti google search engine, google mail, google map, google docs, dan masih ada banyak layanan lain yang disediakan oleh google. Dua kata yang bisa saya ungkapkan untuk menggambarkan google saat ini yaitu “Luar Biasa!!!”. Namun apakah kita tahu satu layanan dari google yaitu “Google Scholar” atau kalau diucapkan dalam bahasa Indonesia yaitu “Google Cendekia”? Nah jenis layanan google inilah yang akan saya sedikit ceritakan. Kita mulai dengan satu pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan Google Cendekia?

Google Cendekia merupakan sebuah layanan yang menyediakan cara yang mudah untuk mencari literatur akademis secara luas. Anda dapat mencari di seluruh bidang ilmu dan referensi dari satu tempat: makalah peer-reviewed, thesis, buku, abstrak, dan artikel, dari penerbit akademis, komunitas profesional, pusat data pracetak, universitas, dan organisasi akademis lainnya. Google Cendekia akan membantu Anda mengidentifikasi penelitian paling relevan dari seluruh penelitian akademis.

Kalau menurut saya google cendekia ini merupakan layanan yang sangat penting dan berguna bagi para akademisi maupun peneliti untuk mencari literatur ilmiah untuk menunjang penelitian. Google cendekia membantu para akademisi dan peneliti untuk menyediakan referensi-referensi terkait topik penelitian yang relevan. Bahkan google cendekia menyediakan beberapa fitur yang berguna seperti filter paten, kutipan, dan jumlah rujukan sehingga kita tahu apakah suatu paper banyak dirujuk atau tidak. Google cendekia juga menyediakan filter tahun publikasi sehingga kita bisa mengetahui apakah suatu penelitian sudah obsolete atau belum. Kita juga bisa mengetahui penelitian-penelitian yang baru dipublikasikan sehingga kita bisa menjamin state of the art/ kekinian dari penelitian yang akan kita lakukan.

Fitur Google Cendekia

  • Cari berbagai sumber dari satu tempat yang praktis
  • Temukan makalah, abstrak, dan kutipan
  • Telusuri makalah lengkap melalui perpustakaan atau Web
  • Pelajari makalah penting dalam bidang penelitian apapun

Bagaimana cara menentukan peringkat artikel?

Google Cendekia bertujuan menyusun artikel seperti yang dilakukan peneliti, dengan memperhatikan kelengkapan teks setiap artikel, penulis, publikasi yang menampilkan artikel, dan frekuensi penggunaan kutipan artikel dalam literatur akademis lainnya. Hasil paling relevan akan selalu muncul pada halaman pertama.

Untuk cara pendaftaran google scholar bisa dibaca di sini. Sebagai catatan jika anda sudah memiliki akun google scholar, maka anda bisa mengutip karya-karya ilmiah anda yang sudah terupload dan terindeks di google scholar. Jika tidak ada maka jangan kuatir, anda tinggal mendaftarkan karya ilmiah anda di google scholar dengan membuka http://www.google.com/support/scholar/bin/request.py. Pada dasarnya google akan mengindeks setiap hal yang kita unggah di internet namun untuk lebih mempercepat proses alangkah lebih baiknya jika kita daftarkan saja karya ilmiah saja. Google scholar akan menampilkan karya ilmiah kita sekitar 4 s/d 6 minggu setelah pendaftaran. Tentunya akan memakan waktu lebih lama lagi jika kita tidak daftarkan J.

 

Ya baiklah, mudah-mudahan para pembaca masih berminat untuk membaca tulisan saya selanjutnya. Tapi setidaknya jika sudah tidak berminat membaca tulisan saya pembaca masih berminat untuk memiliki akun google scholar. Kita lanjutkan lagi pembahasan kita tentang google scholar. Saya sangat ingin tahu tentang aktifitas yang sudah dilakukan oleh beberapa kampus ternama di Indonesia terkait jumlah karya ilmiah yang sudah diunggah dan didaftarkan di google scholar. Caranya adalah dengan membuka alamat http://scholar.google.co.id kemudian ketikkan site:[alamat domain], misalkan:  site:ui.ac.id. jika alamat domainnya valid maka akan ditampilkan jumlah dan hyperlink dari karya-karya ilmiah yang ada pada perguruan tinggi tersebut.

  1. Universitas Indonesia, jumlah publikasi: 10.600
  2. Universitas Gajah Mada, jumlah publikasi: 25.400
  3. Universitas Padjadjaran, jumlah publikasi: 5.340
  4. Universita Airlangga, jumlah publikasi: 5.640
  5. Institute Teknologi Bandung, jumlah publikasi: 7.450
  6. Institute Teknologi Sepuluh Nopember, jumlah publikasi: 20.100

Kesan saya: jadi pingin jalan-jalan keluar negeri untuk membandingkan

 

Sekarang mari kita jalan-jalan keluar negeri yuk..

  1. Harvard University, jumlah publikasi: 2.140.000
  2. Massachusetts Institute of Technology (MIT), jumlah publikasi: 78.000
  3. Stanford University, jumlah publikasi: 47.800

 

Kesan saya: Wow Spektakuler!!!! Jumlah publikasi yang sangat luar biasa….

Setelah jalan-jalan keluar negeri marilah kita pulang kampung ke Dayeuhkolot untuk melihat realita yang harus dihadapi oleh kampus-kampus di lingkungan ini. Namun sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak akan menulis nama kampus secara jelas karena alasan kemanusiaan alias g tega L.

  1. Kampus A (Kakak Tertua), jumlah publikasi: 36
  2. Kampus B (Kakak Kedua), jumlah publikasi: 36
  3. Kampus C (Adik Nomor 1), jumlah publikasi: 60
  4. Kampus D (Adik Paling Buncit), jumlah publikasi: 32

Kesan saya: Hwaaaaaaaaa!!! Sepertinya cita-cita untuk menjadi World Class University masih sangat jauuuuuuuuhhh….

Jika pembaca penasaran tentang nama-nama kampus diatas saya sarankan langsung saja buka google scholar untuk melakukan verifikasi.  mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tokoh, karakter ataupun peristiwa dari penyebutan nama nama kampus diatas.

Repository

Berikut direktori untuk download materi kuliah, tutorial,  dan paper.

Selamat menikmati….

[DIR] Materi DBMS/ Slide materi kuliah database management system -
[DIR] Materi Pelatihan Oracle PL-SQL Fundamental/ Slide oracle PL/SQL Fundamental -
[DIR] Oracle Application Express/ Tutorial Oracle Application Express -
[DIR] Paper/ Publikasi & Seminar -
[DIR] Perancangan Basis Data/ Slide Perancangan Basis Data -
[DIR] Tugas Mahasiswa/

Posisi Politeknik Telkom di Dunia dari sudut pandang Open Access Initiative

Posisi Politeknik Telkom di Dunia dari sudut pandang Open Access Initiative

Sekedar sharing….
Berikut ini adalah paparan mengenai sistem pemeringkatan perguruan tinggi di dunia yang selama ini dijadikan parameter oleh beberapa perguruan tinggi untuk mengukur posisi mereka di dunia. Sistem pemeringkatan tersebut biasa orang sebut sebagai WEBOMETRICS. Mungkin sering kali atau bahkan tidak pernah muncul beberapa pertanyaan di pikiran kita mengenai hal-hal sbb:
1. Apa itu yang disebut sebagai WEBOMETRICS?
2. Apa hakikat dari WEBOMETRICS?
3. Bagaimana cara kerja WEBOMETRICS?
4. Dimana posisi POLITEKNIK TELKOM sekarang?
5. PENTING GAK SIH WEBOMETRICS DI POLITEKNIK TELKOM?

Ok, mungkin akan coba saya jawab dengan pengetahuan saya yang terbatas pertanyaan-pertanyaan tsb. Jika jawaban saya salah mohon untuk dikoreksi.
1. Apa itu yang disebut sebagai WEBOMETRICS?
“Webometrics Ranking of World Universities” merupakan inisiatif pemeringkatan dari sebuah grup riset di Spanyol (negara yang ada LA Liga dan Adu Banteng vs Manusia itu Loooh..) yang bernama Cybermetrics Lab. Grup riset ini dimiliki oleh organisasi riset terbesar di eropa yang bernama Consejo Superior de Investigaciones Científicas (CSIC). Tujuan utama dari webometrics ini sebenarnya sangat mulia yaitu:
1. Memajukan web publication (Go Digital).
2. Open Access Inisiatives

Sumber: webometrics.info

“Some colleges use WEBOMETRICS as a marketing tool rather than actual objectives”

2. Apa hakikat dari WEBOMETRICS?
Waktu itu pada tanggal 17 Februari 2012 juragannya WEBOMETRICS yaitu Dr (h.c.) Isidro F Aguillo datang ke Bogor untuk membeli roti unyil dan macaroni panggang. Selain itu beliau datang untuk menjadi pembicara pada Seminar Nasional Pemeringkatan Web Institusi yang diselenggarakan oleh IPB dan Alhamdulillah saat itu saya bisa hadir untuk mencari pencerahan terkait sistem WEBOMETRICS yang baru.


Jika beliau ditanya apa sebenarnya hakikat dari “Webometrics Ranking of World Universities”beliau menjawab Open Access Initiatives. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Open Access Initiatives. Berikut ini pengertian yang saya kutip dari sebuah sumber. Open Access Inisiatives ketersediaan artikel-artikel secara cuma-cuma di Internet, agar memungkinkan semua orang membaca, mengambil, menyalin, menyebarkan, mencetak, menelusur,atau membuat kaitan dengan artikel-artikel tersebut secara sepenuhnya, menjelajahinya untuk membuat indeks, menyalurkannya sebagai data masukan ke perangkat lunak, atau menggunakannya untukberbagai keperluan yang tidak melanggar hukum, tanpa harus menghadapi hambatan finansial, legal, atau teknis selain hambatan-hambatan yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengakses Internet itu sendiri. Sumber: Budapest Open Access Initiative
“web indicators are very useful for ranking purposes too as they are not based on number of visits or page design but on the global performance and visibility of the universities.”

3. Bagaimana cara kerja/ metodologi WEBOMETRICS?
WEBOMETRICS melakukan analisis terhadap domain yang dimiliki oleh sebuah institusi. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan search engine seperti google, yahoo, bing, dan exalead. Namun mulai periode januari 2012 WEBOMETRICS hanya menggunakan google karena alasan stabilitas. WEBOMETRICS hanya akan memperhitungkan institusi yang memiliki domain independen dan Alhamdulillah Politeknik Telkom adalah perguruan tinggi yang memiliki domain independen. Sistem penilaian WEBOMETRICS terdiri dari empat parameter sebagai berikut:
1. Size (S), merupakan jumlah halaman domain institusi yang diindeks oleh mesin pencari google.
2. Visibility (V), merupakan jumlah tautan dari luar domain institusi (backlinks) dan jumlah domain luar yang mengacu pada domain institusi (reffering domain). Jumlah backlinks dan reffering domain dapat diukur menggunakan Majestic SEO (majesticseo.com).
3. Rich Files (R), merupakan jumlah file Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps & .eps), Microsoft Word (.doc & .docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt & .pptx) yang diindeks oleh mesin pencari Google.
4. Scholar (Sc), scholar merupakan jumlah paper yang diindeks oleh google scholar (google cendekia) mulai tahun 2007 sampai dengan 2011 yang dikombinasikan dengan data dari Scimago mulai tahun 2003 sampai dengan 2010. Scimago merupakan sistem untuk melakukan pemeringkatan terhadap jurnal-jurnal ilmiah di seluruh dunia (http://www.scimagojr.com)

Jika kita perhatikan sistem penilaian WEBOMETRICS hanya memanfaatkan data-data dari seach engine dan MajesticSEO untuk melakukan pemeringkatan. Hal ini berbeda dengan sistem pemeringkatan lain seperti ARWU (Academic Ranking of World Universities) yang digagas oleh China. ARWU melakukan pemeringkatan perguruan tinggi menggunakan survey terhadap kinerja riil dari suatu institusi. Namun apapun metodologinya baik WEBOMETRICS ataupun ARWU masih cukup representative untuk menggambarkan kinerja suatu institusi pendidikan (pendapat pribadi saya).

Ketika Dr (h.c.) Isidro F Aguillo ditanya “saya harus membuat sistem yang seperti apa supaya peringkat WEBOMETRICS kita tinggi?” dia menjawab “buatlah sistem yang WEBOMETRICS FRIENDLY”. WEBOMETRICS FRIENDLY bukanlah sebuah sistem yang canggih seperti teknologi kepunyaan NASA tapi sistem yang mudah diakses dan diindeks oleh mesin pencari. Tidak perlu sistem yang super canggih untuk menaikkan peringkat WEBOMETRICS tapi lebih bagaimana kita membentuk sebuah mind set yaitu “Open Access Initiatives”. Bagaimana caranya? Intinya kita harus belajar ilmu ikhlas dulu. Yang saya maksud dengan ilmu ikhlas disini adalah kita melakukan inisiatif untuk melakukan sharing knowledge di dunia maya. Kemudian muncul pertanyaan lagi “apa yang ingin kita share jika kita tidak punya knowledge?”. Kalau ada yang menanyakan hal tersebut saya akan menanyakan hal yang paling bodoh untuk posisi yang diamanahkan ke saya saat ini pertanyaan tersebut adalah “Apa sebenarnya CORE VALUE dari Politeknik Telkom?”. Hingga saat ini saya masih juga belum menemukan jawabannya, mohon bagi yang bisa menjawab pertanyaan ini untuk bisa menjawabnya.

“It’s not about sophisticated system but WEBOMETRICS FRIENDLY SYSTEM”

4. Dimana posisi kita sekarang?
Periode 2008 s/d Jan 2010 : tidak masuk peringkat
Periode Juli 2011: 10691
Periode Januari 2012: 10669

Sumber: webometrics.info

Jika kita lihat nilai-nilai parameter dari perguruan tinggi di lingkungan YPT yang saya ambil tanggal 14 Mei 2012 sbb:


Sumber: google, majesticSEO

Jika kita lihat dari gambar-gambar diatas kita melihat bahwa memang Politeknik Telkom masih tertinggal dari tetangga-tetangga kita.

“be thankful with what we have but do not be complacent with what we’ve accomplished”

5. Apa yang harus kita lakukan supaya kita tidak tertinggal?
Ada beberapa hal yang saya sudah pernah rekomendasikan sbb:

  • Merekomendasikan untuk menggunakan 1 domain (mencegah terpecahnya nilai), Politeknik telkom masih menggunakan dua domain yaitu politekniktelkom.ac.id dan politel.ac.id. hal ini tentunya sangat merugikan karena nilai akan terpecah ke dua domain tersebut.
  • Merekomendasikan dosen dan pegawai untuk menulis/mengunggah hasil tulisan di internet/blog (diutamakan berbahasa inggris).
  • Merekomendasikan Unit untuk menggunakan web site Politeknik Telkom sebagai media informasi.
  • Merekomendasikan dukungan kebijakan/aturan dari manajemen untuk memasukkan unggah publikasi/ posting materi di blog sebagai salah satu point NKI.

Saya hanya menggunakan kata “merekomendasikan” karena saya bukan pengambil kebijakan yang berhak menggunakan kata “mengharuskan”. Beberapa hal diatas alhamdulilah sudah dilakukan seperti menggunakan 1 domain dan penggunaan website Politeknik Telkom sebagai media Informasi. Dan saya sangat salut kepada beberapa rekan dosen yang disela-sela kesibukannya menyempatkan waktu untuk menulis dan sharing knowledge melalui blog Politeknik Telkom. Namun disamping itu saya sangat prihatin dengan beberapa blog pegawai yang sepertinya masih mati suri. Kondisinya sangat memprihatinkan ibarat rumah yang tidak berpenghuni, dipenuhi semak belukar, sarang laba-laba, bahkan ada gelandangan yang numpang tidur disitu.

Dengan melihat fakta dan kecenderungan diatas sepertinya memang harus dipikirkan cara-cara lain yang lebih efektif serta memperkenalkan knowledge yang dimiliki oleh Politeknik Telkom. Cara terakhir yang sedang dilakukan oleh sisfo adalah mengadakan Go! Blog Award yang diikuti oleh mahasiswa. Alhamdulillah setelah beberapa hari jumlah mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk membuat blog maupun yang memposting tulisan-tulisan terkait Teknologi Informasi sudah cukup banyak. Mudah-mudahan dengan cara terakhir ini Politeknik Telkom dapat dikenal dengan cara yang seharusnya.

“do not get off track”

6. PENTING GAK SIH WEBOMETRICS DI POLITEKNIK TELKOM?
Ketika pertanyaan itu muncul mayoritas pasti menjawab “Penting”. Namun apa sebenarnya definisi dari kata “penting” itu? Kalau menurut saya pribadi kata “penting” itu bermakna “harus diperhatikan dan dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan”. Ketika makna itu muncul sepertinya akan kembali lagi pada pertanyaan “Apa sebenarnya CORE VALUE dari Politeknik Telkom?” apakah kita ingin menjadi perguruan tinggi IT yang unggul dan dikenal melalui karya-karya ilmiah yang inovatif atau kita ingin dikenal dengan cara yang lain? (ini kok malah jawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi sih!!! wakakakakak).

the word “important” it means “must be observed and performed to achieve the expected results”

Membuat Aplikasi Pemesanan Tiket Travel Sederhana Menggunakan Oracle Aplication Express

Berikut ini adalah contoh aplikasi sederhana pemesanan tiket travel. Adapun diagram ER studi kasus tersebut adalah sebagai berikut:

Membuat Aplikasi Sederhana Menggunakan Oracle Application Express

Pada tulisan sebelumnya sudah dibahas mengenai bagaimana menjalankan demo-demo aplikasi yang ada pada Oracle Application Express. Nah pada tulisan ini akan dibahas mengenai bagaimana membangun aplikasi sederhana yang terdiri dari dua buah tabel dari diagram ER berikut:



untuk lebih jelasnya silahkan download di sini.

Mudah-mudahan bermanfaat. Terima Kasih

Memulai Menggunakan Oracle Application Express

Tulisan ini membahas mengenai bagaimana menggunakan Oracle Application Express. Materi yang pertama adalah tentang bagaimana cara menjalankan demo aplikasi yang ada pada Oracle Application Express. Berikut ini adalah kumpulan file-file presentasi dari mahasiswa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Terima Kasih

Strategi dan Kebijakan Pengembangan E-business di Indonesia

Abstrak

Saat ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat cepat membawa dampak yang cukup signifikan bagi berbagai aspek kehidupan, termasuk didalam dunia bisnis. Salah satu konsep yang dinilai merupakan paradigma bisnis baru adalah e-business atau dikenal pula dengan istilah e-commerce sebagai bidang kajian yang relatif masih baru dan akan terus berkembang, e-business berdampak besar pada praktek bisnis, setidaknya dalam hal penyempurnaan direct marketing, transformasi organisasi, dan redefinisi organisasi. E-business mengacu kepada definisi e-commerse yang lebih luas, bukan hanya pembelian dan penjualan barang dan jasa tetapi, juga melayani pelanggan, berkolaborasi dengan mitra bisnis, mengadakan e-learning, dan melakukan transaksi elektronik dalam suatu organisasi. Sebagian yang lain memandang e-business sebagai aktifitas “apapun selain pembelian dan penjualan” di internet, misalnya kolaborasi dan aktivitas intrabisnis. Dalam tulisan ini dibahas mengenai permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pengembangan e-business di Indonesia serta bagaimana langkah-langkah stategis yang harus dilakukan untuk memanfaatkan e-business untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa menggunakan analisis SWOT yang digabungkan dengan Model Hofstede sebagai alat untuk menilai budaya masyarakat di Indonesia.

Kata kunci: e-business, teknologi informasi , budaya.

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Terdapat sebuah fenomena yaitu menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2001 mencapai 4,2 juta orang. Meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan angka pada akhir tahun 2000 sebesar 1,9 juta orang. Sedangkan berdasarkan data yang diberikan oleh internetworldstats, penduduk Indonesia yang menggunakan Internet berjumlah 25.000.000 pada tahun 2008, atau meningkat sebesar 1.150 % dari tahun 2000 yang hanya berkisar 2.000.000 saja. Indonesia merupakan negara peringkat ke-5 pengguna internet di Asia.  Ini merupakan sebuah fenomena menarik untuk dicermati. Seiring dengan perkembangan TI pada umumnya ini maka munculah istilah-istilah baru seperti e-commerse, e-government, e-business, e-learning dan lain-lain. Dalam tulisan ini pembahasan lebih terfokus terhadap apa yang dinamakan dengan e-business. Dengan melihat fakta diatas pengembangan e-business di Indonesia dapat menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian juga banyak hal yang harus dipertimbangkan yaitu faktor-faktor eksternal dan faktor internal yang salah satunya adalah budaya bangsa Indonesia.

1.2. Tujuan Pembahasan

Berikut ini adalah tujuan pembahasan yang ada pada tulisan ini adalah melakukan penyusunan stategi dan kebijakan pengembangan e-business di Indonesia yang didasarkan pada analisa SWOT dan model hofstede untuk mengidentifikasi faktor budaya.

1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah yang ada pada tulisan ini adalah Identifikasi permasalahan yang ada hanya berdasarkan studi literatur.

2. Landasan Teori

2.1. Pengertian e-business

Jika kita membicarakan tentang e-business maka kita juga berhubungan dengan apa yang dinamakan dengan e-commerse. Hubungan ini didasarkan pada pengertian dari kedua hal tersebut. E-commerse atau electronic commerse mendeskripsikan proses penjualan, pentransferan, atau pertukaran produk, jasa dan atau informasi via jaringan komputer, termasuk internet. Beberapa orang hanya melihat istilah commerse (perdagangan) sebagai penggambaran transaksi yang dilakukan antar mitra bisnis. Jika definisi commerse itu yang digunakan, maka beberapa orang akan medapati istilah e-commerse yang agak sempit. Oleh karena itu, kebanyakan orang lebih suka menggunakan istilah e-business. E-business mengacu kepada definisi e-commerse yang lebih luas, bukan hanya pembelian dan penjualan barang dan jasa tetapi, juga melayani pelanggan, berkolaborasi dengan mitra bisnis, mengadakan e-learning, dan melakukan transaksi elektronik dalam suatu organisasi. Sebagian yang lain memandang e-business sebagai aktifitas apapun selain pembelian dan penjualan” di internet, misalnya kolaborasi dan aktivitas intrabisnis.

E-business dapat menjadi aset yang strategis dan menjadi keunggulan suatu organisasi jika organisasi tersebut mampu memanfaatkan e-business dengan baik. Sebuah organisasi harus mampu melakukan transformasi proses bisnis yang mereka lakukan agar dapat memanfaatkan e-business dengan baik. Secara umum, sebuah keuntungan yang tinggi akan diperoleh jika e-business yang dimiliki dapat terkait secara langsung dan membentuk komunitas dengan konsumen, rekan kerja, dan suppliers.

2.2. Pengertian Budaya

Menurut Michael B. Stoner (1995), budaya adalah gabungan kompleks asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora, dan berbagai ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota masyarakat tertentu. Budaya di dalamnya juga termasuk semua cara yang telah terorganisasi, kepercayaan, norma, nilai-nilai budaya implisit, serta premis-premis yang mendasar dan mengandung suatu perintah.  Pengertian budaya kemudian dikaitkan dalam suatu organisasi, sehingga menjadi istilah  budaya organisasi yang menarik perhatian bagi para akademisi dan praktisi untuk mempelajarinya lebih seksama karena diyakini bahwa budaya organisasi ini memiliki peran penting dalam pengelolaan organisasi. Setelah istilah ini makin populer, maka memunculkan banyak definisi, di antaranya yang dikemukakan oleh Schein (1992:12) merumuskan budaya organisasi sebagai berikut: “A pattern of shared basic assumptions that the group learned as it solved its problem of external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid and therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive, think, and feel in relation to those problems”. Definisi Schein ini memandang budaya organisasi sebagai suatu pola asumsi-asumsi mendasar yang dipahami bersama dalam sebuah organisasi terutama dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pola -pola tersebut menjadi sesuatu yang pasti dan disosialisasikan kepada anggota-anggota baru dalam organisasi. Sedangkan Budaya Organisasi menurut Kim Cameron dan Robert E. Quinn (1999) adalah kumpulan nilai atau kepercayaan yang bersifat unik bagi organisasi.

2.3. Fungsi dan Manfaat Budaya Organisasi

Dalam suatu organisasi atau perusahaan diperlukan suatu acuan baku sehingga sumber daya manusia dapat diberdayakan secara optimal, artinya agar karyawan dapat berfungsi secara   profesional dengan integritas yang tinggi. Acuan baku tadi dapat dimanifestasikan dalam bentuk budaya perusahaan yang secara sistematis menuntun para karyawan untuk meningkatkan  komitmen kerjanya bagi perusahaan dan pada akhirnya akan meningkatkan kinerja perusahaan.  Memang ada beberapa faktor yang menentukan perilaku manajemen sebuah perusahaan,  namun dalam studinya, Kotter & Heskett (1997) menempatkan budaya organisasi sebagai faktor  utama yang mengkondisikan faktor-faktor lainnya, sehingga secara realiti dapat dikatakan bahwa budaya organisasi memiliki keterkaitan yang erat terhadap keberhasilan suatu organisasi.

Harvey & Bowin (1996) dalam bukunya mengungkapkan bahwa semakin jelas terbukti bahwa hanya perusahaan-perusahaan dengan budaya perusahaan efektif yang dapat menciptakan peningkatan produktivitas, meningkatkan rasa ikut memiliki dari karyawan, dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan. Menurut Robbins (1998:801) mengemukakan fungsi budaya organisasi sebagai berikut.

1.   Budaya mempunyai suatu peran pembeda. Hal itu berarti bahwa budaya organisasi menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan yang lain.

2.   Budaya organisasi memberikan suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.

3.   Budaya organisasi mempermudah timbulnya pertumbuhan komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual.

4.   Budaya organisasi itu meningkatkan kemantapan sistem sosial.

2.4. Pengertian Dimensi Budaya Dalam Model Hofstede

Geert Hofstede cultural dimensions adalah sebuah model yang dibuat oleh Prof. Geert Hofstede untuk membantu menjelaskan nilai dari sebagian budaya dan bagaimana hal tersebut berpengaruh terhadap lingkungan kerja, organisasi dan perilaku kelompok. Penelitian awal dilakukan dengan menganalisa informasi dalam jumlah yang sangat banyak pada pegawai yang dikumpulkan oleh IBM pada tahun 1967 sampai 1973 yang melingkupi lebih dari 70 negara.

Model dimensi budaya yang dibangun oleh Hofstede berbasis pada studi yang luas dari bagaimana nilai dalam lingkungan kerja dipengaruhi oleh budaya. Sebagian budaya akan dinilai dengan menggunakan 5 (lima) kategori yang berbeda yaitu: Power Distance (PDI), Individualism (IDV), Masculity (MAS), Uncertainty Avoidance (UAI) and Long Term Orientation (LTO).

 

1. Power Distance Index (PDI)

Adalah suatu tingkat kepercayaan atau penerimaan dari suatu kekuatan yang tidak seimbang di antara orang-orang. Budaya di mana beberapa orang dianggap lebih superior dibandingkan dengan yang lain dikarenakan status sosial, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang atau faktor lainnya merupakan bentuk power distance yang tinggi. Negara yang memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Sementara itu budaya dengan power distance yang rendah cenderung untuk melihat persamaan di antara orang dan lebih fokus kepada status yang dicapai daripada yang disandang oleh seseorang.

2. Individualism (IDV)

Individualisme adalah lawan dari kolektivisme, yaitu tingkat di mana individu terintegrasi ke dalam kelompok. Dari sisi individualis kita melihat bahwa terdapat ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk mengurus dirinya masing-masing dan keluarga terdekatnya. Sementara itu dari sisi kolektivis, kita melihat bahwa sejak lahir orang sudah terintegrasi ke dalam suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga jauh juga turut terlibat dalam merawat sanak saudara dan kerabatnya.

3. Masculinity (MAS)

Maskulinitas adalah lawan dari feminisitas, berkenaan terhadap distribusi dari peran antar gender yang merupakan masalah lain yang mendasar pada suatu kelompok. Penelitian dari IBM menemukan bahwa:

a.   Nilai wanita kurang dari nilai pria pada suatu kelompok.

b.  Nilai pria dari satu negara terhadap negara lain berisi sebuah dimensi yang tegas dan kompetitif yang secara maksimal berbeda dari nilai wanita terhadap yang lainnya. Kutub yang tegas ini dinamain ‘maskulin’ dan untuk kutub yang sopan, dinamai dengan kutub ‘feminin’. Wanita dalam negara feminin harus memiliki kesopanan yang sama, yang membawa nilai seperti pria; pada negara maskulin mereka berupa sesuatu yang tegas dan kompetitif, tetapi tidak sebanyak pria, sehingga pada negara ini menunjukkan jarak antara nilai wanita dan nilai pria.

4. Uncertainty Avoidance Index (UAI)

Adalah mengenai bagaimana budaya nasional berkaitan dengan ketidakpastian dan ambiguitas, kemudian bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan. Pada negara-negara yang mempunyai uncertainty avoidance yang besar, cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari risiko dan mengandalkan peraturan formal dan juga ritual. Kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat. Akan sulit bagi seorang negotiator dari luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka. Pada negara dengan uncertainty avoidance yang rendah, atau memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk ketidakpastian, mereka cenderung lebih bisa menerima resiko, dapat memecahkan masalah, memiliki struktur organisasi yang flat, dan memilki toleransi terhadap ambiguitas. Bagi orang dari masyarakat luar, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan.

5. Long-Term Orientation (LTO)

Adalah kebalikan dari short-term orientation: dimensi kelima ini ditemukan dalam sebuah penelitian diantara para pelajar pada 23 negara diseluruh dunia, dengan menggunakan kuisioner yang dirancang oleh pelajar cina, hal ini dapat dikatakan berhubungan dengan kebaikan dengan mengabaikan kebenaran. Nilai yang berkaitan dengan Orientasi Jangka Pendek adalah pada penghomatan terhadap tradisi, pemenuhan kewajiban sosial, dan perlindungan ‘wajah’ seseorang. Antara kedua penilaian nilai positif dan negatif pada dimensi ini ditemukan pada ajaran dari Confucius, filosofis paling berpengaruh di Cina yang hidup sekitar tahun 500 SM. Bagaimanapun, dimensi ini tetap bisa diaplikasikan pada negara yang tidak memiliki warisan budaya Confucian.

2.5. Analisis SWOT

Salah satu model perencanaan strategis adalah analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities dan Threats). S dan W mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan internal perusahaan dalam hal ini berkaitan dengan fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemberian motivasi dan pengendalian). S dan W juga mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pada fungsi bisnis yaitu : merancang pemasaran dan produk; produksi dan penawaran; sumber daya manusia; dan keuangan. O dan T merupakan analisis eksternal – berupa peluang dan ancaman yang meliputi aspek : sosial, teknologi, ekonomi, politik, hukum, lingkungan, demografi dan pesaing

  • S-O strategies, merupakan strategi yang mengejar peluang yang cocok dengan kekuatan perusahaan/ organisasi.
  • W-O strategies, merupakan strategi untuk menanggulangi kelemahan untuk mengejar peluang.
  • S-T strategies, merupakan strategi untuk mengidentifikasi cara sehingga organisasi/ perusahaan dapat menggunakan kekuatannya untuk mereduksi ancaman dari luar.
  • W-T strategies, merupakan strategi untuk membentuk defensive plan untuk mencegah kelemahan perusahaan/ organisasi dari ancaman dari luar.

Analisis SWOT merupakan cara yang baik untuk lebih memahami bisnis. Analisis SWOT memungkinkan kita untuk menganalisis wilayah yang berbeda dalam memandang entitas-entitas yang berhubungan dengan faktor eksternal dan internal. Sehingga memberikan kita pemahaman yang komplit mengenai parameter-parameter yang  mempengaruhi proses pengambilan keputusan.

1. Analisa Permasalahan

3.1. Penilaian Dimensi Budaya Organisasi Dengan Model Hofstede

Berikut ini adalah hasil yang didapatkan oleh survey yang dilakukan oleh www.geert-hofstede.com di Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia.

Gambar 2. Dimensi budaya dengan model Hofstede di Indonesia

Indonesia memiliki Power Distance (PDI) tertinggi diantara kategori yang lain yaitu bernilai 78. Tingginya Power Distance (PDI) mengindikasikan tingginya derajat ketidaksamaan antara kekuatan dan kemakmuran dalam kehidupan bermasyarakat. Rata-rata nilai Power Distance untuk sebagian besar negara di Asia adalah 71. Nilai kategori terbesar kedua di Indonesia adalah Uncertaintly Avoidance (UAI) sebesar 48, dibandingkan dengan rata-rata negara di Asia sebesar 58 dan di dunia 64. Hal ini menunjukkan pengaruh yang moderat pada masyarakat Indonesia. Secara umum nilai  Uncertainty Avoidance (UAI) yang tinggi menunjukkan masyarakat memiliki toleransi yang rendah terhadap ketidakpastian. Tujuan utama dari masyarakat ini adalah mengontrol segala sesuatu dengan tujuan untuk menghapus atau menghindari ketidakpastian. Hasil dari tingginya nilai Uncertainty Avoidance, masyarakat kurang siap untuk menerima perubahan dan resiko yang merugikan.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan nilai individualisme terendah yaitu 14 dibandingkan dengan rata-rata negara di Asia yaitu  23 dan rata-rata negara diseluruh dunia 64. Nilai pada dimensi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih bersifat kolektif dari pada individualistis. Selain itu masyarakat Indonesia juga memiliki komitmen jangka panjang terhadap kelompok, keluarga, keluarga besar, maupun hubungan lain yang lebih luas. Loyalitas dalam budaya yang kolektif merupakan hal yang sangat penting dan dapat mengesampingkan aturan-aturan sosial yang lain di dalam masyarakat. Masyarakat membantu hubungan yang sangat erat dimana setiap orang memiliki kewajiban tertentu sebagai anggota dalam suatu kelompok.

Kombinasi dari dua nilai tertinggi yaitu UAI dan PDI menjadikan masyarakat bersifat rule-oriented dengan hukum, aturan, regulasi, dan kontrol berfungsi untuk mengurangi tingkat ketidakpastian, selain ,itu juga terdapat pengakuan terhadap ketidaksamaan derajat (status sosial) dan kekuatan didalam masyarakat. Budaya ini mirip dengan sistem kasta yang tidak mengijinkan perpindahan kasta yang lebih atas secara signifikan. Ketika dua dimensi budaya ini digabungkan maka akan terbentuk situasi dimana pemimpin memiliki kekuatan yang nyata, otoritas, aturan, hukum, dan regulasi dibuat dengan kekuatan dan kontrol yang dimiliki oleh pemimpin.

3.1. Analisis SWOT

Adapun untuk mendefinisikan strategi dan kebijakan pengembangan e-business di Indonesia terlebih dahulu harus didefinisikan obyektifnya, yaitu:

1)     Mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa melalui e-business yang berfungsi sebagai stimulus dan enabler pertumbuhan.

2)     Memperluas pangsa pasar potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dari tingkat nasional sampai internasional.

3)     Meningkatkan nilai kompetitif produk yang dihasilkan anak bangsa dengan memotong atau bahkan menghilangkan jalur distribusi pemasaran sehingga produk menjadi lebih murah dan lebih memberikan keuntungan.

4)     Memeratakan perkembangan/ pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan fasilitator teknologi informasi.

Berdasarkan apa yang telah didapatkan pada hasil survey dan analisis yang dilakukan oleh www.geert-hofstede.com maka faktor budaya masyarakat Indonesia dapat dikategorikan sebagai faktor internal yang terdiri dari Strength (Kekuatan) dan Weakness (Kelemahan).

1. Kesimpulan

Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1)     Budaya dapat menjadi salah satu parameter yang dapat digunakan untuk membuat strategi dan kebijakan pengembangan e-business di suatu domain permasalahan. Indonesia merupakan negara yang memiliki nilai dimensi budaya hofstede yang khas budaya negara-negara di Asia dimana terdapat Power Distance dan Uncertainty Avoidance yang tinggi serta nilai Individualism yang rendah. Adanya budaya yang khas ini menentukan jenis strategi dan kebijakan yang akan diterapkan dimana faktor budaya dapat dianggap sebagai strength (kekuatan) dan weakness (kelemahan) dalam analisis SWOT.

2)     Dalam mempercepat perkembangan e-business yang berorientasi pada keuntungan kompetitif peran serta semua stakeholder yang ada sangat diperlukan. Stakeholder ini meliputi semua kalangan yaitu pemerintah, bisnis, institusi pendidikan, dan masyarakat yang selalu melakukan sharing knowledge, alignment, dan secara aktif memberikan feedback. Dalam hal ini bentuk-bentuk kebijakan yang dibuat adalah berdasarkan atas stakeholder tersebut.

2. Daftar Pustaka

1)     Alkaff, Abdullah, 2005, Strategi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Indonesia SAKTI), Itspress, Surabaya.

2)     Deise, Martin V, Conrad Nowikow, Patrick King, and Amy Wright, 2000, Executvie’s Guide to eBusiness – From Tactics to Strategy, John Wiley & Sons, Inc, Canada.

3)     Gunawan, Ade,  Pengembangan E-Government Dalam Menuju Pemerintahan yang Baik (Good Governance). Jurnal Sistem Informasi MTI IU, Vo.3, No.1, 2007.

4)     Indrajit, Richardus Eko, 2001, Konsep dan Aplikasi E-business.

5)     Kalakota, Ravi, 2001, E-business 2.0: Roadmap for Success, MA: Addison Wesley.

6)     Turban, Efraim, 2005, Decision Support system and Intelligence System. Pearson Education, Inc.

7)     Purwaningsih, Mardiana, Kajian Aspek Kesiapan Pemerintah Daerah dalam Implementasi E-Business di Indonesia, Konferensi Nasional Sistem Informasi, 2009.

8)     http://www.geert-hofstede.com/hofstede_indonesia.shtml; 14 Agustus 2009.

9)     http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm; 14 Agustus 2009.

10)  http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind; 14 Agustus 2009.

 

untuk lebih jelasnya, paper dapat didownload di sini